Kolam Mengering, Ikan Nila di Ciamis Mati akibat Suhu Ekstrem

Daerah28 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Musim kemarau panjang mulai memicu kematian ikan nila di sejumlah kolam budidaya masyarakat Kabupaten Ciamis. Kondisi tersebut terjadi secara bertahap seiring menyusutnya volume air kolam dan meningkatnya suhu yang berdampak terhadap kadar oksigen di dalam air.

Kepala Bidang Pemanfaatan dan Pengendalian Sumber Daya Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis, Aris Andriyana, mengatakan kematian ikan ditemukan di sejumlah wilayah. Namun, kasusnya tidak terjadi secara serentak dalam jumlah besar di satu lokasi.

Menurutnya, suhu yang ekstrem selama kemarau dapat menyebabkan kandungan oksigen terlarut di dalam air menurun. Kondisi tersebut membuat ikan lebih rentan dan pada akhirnya dapat mengalami kematian.

“Kalau di kematian ikan nila itu memang banyak, dalam arti sedikit-sedikit, tapi dari beberapa wilayah tidak satu lokasi langsung jumlah kematiannya banyak. Itu diakibatkan karena memang suhu yang ekstrem sehingga kandungan oksigen di dalam air itu berkurang sehingga ikan bisa menjadi mati,” ujar Aris.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari dampak kekeringan yang kini dirasakan sektor perikanan Ciamis. Berdasarkan pendataan Disnakkan bersama penyuluh perikanan, sekitar 90 persen kolam budidaya masyarakat telah mengalami kekeringan atau terdampak berkurangnya ketersediaan air.

Wilayah Ciamis bagian selatan menjadi salah satu kawasan yang cukup terdampak. Sementara itu, kolam yang masih memiliki kondisi air relatif baik umumnya berada di wilayah yang dekat dengan kawasan kaki Gunung Sawal.

BACA JUGA:  KKRA Ciamis Sukses Fasilitasi Potensi Anak Lewat Beragam Lomba Edukatif

Beberapa daerah tersebut meliputi Sadananya, Cipaku, Cikoneng, Ciawi, Panjalu, Panumbangan, serta sebagian Sindangkasih.

Aris menjelaskan, belum ada angka pasti mengenai total ikan yang mati akibat kekeringan. Laporan dari lapangan lebih banyak berupa kejadian kematian ikan dalam jumlah terbatas di beberapa lokasi.

Kondisi tersebut membuat kematian ikan tidak sampai tercatat sebagai kejadian besar secara formal. Para pembudidaya bersama penyuluh perikanan dapat melakukan penanganan langsung ketika menemukan ikan yang mati.

“Kalau kematian itu biasanya tidak langsung besar, tetapi sedikit-sedikit. Para pembudidaya sudah tahu dan mengantisipasi ketika memang sudah ada yang mati, biasanya diangkat atau diambil,” katanya.

Untuk mengurangi risiko kematian yang lebih besar, Disnakkan mengingatkan pembudidaya agar tidak mengisi kolam dengan jumlah ikan yang melebihi kapasitas.

Kepadatan tebar harus disesuaikan dengan ukuran kolam dan kondisi air. Jumlah ikan yang terlalu banyak dapat memperburuk kualitas air, terutama ketika pergantian air tidak berjalan normal.

Selain itu, pengelolaan penyakit juga menjadi perhatian. Minimnya air dapat meningkatkan kandungan amonia di dalam kolam yang berpotensi memicu gangguan kesehatan pada ikan.

BACA JUGA:  Disnakan Ciamis Teliti Keaslian Genetik Ikan Gurame Soang, Libatkan IPB dan KKP

Kondisi air yang semakin terbatas juga membuat pembudidaya harus mengubah pola pemeliharaan. Salah satunya dengan mengurangi pemberian pakan.

Menurut Aris, pemberian pakan secara berlebihan pada kolam yang sirkulasi airnya buruk justru dapat memperburuk kondisi lingkungan perairan.

“Kalau terus-terusan dikasih pakan dengan kondisi air yang tidak mengalir bisa berbahaya juga. Jadi kebanyakan mengerem jumlah pemberian pakan karena kondisi seperti ini,” ujarnya.

Disnakkan mendorong pembudidaya untuk lebih memperhatikan kondisi air sebelum menentukan jumlah pakan maupun kepadatan ikan.

Krisis air tidak hanya dialami pembudidaya masyarakat. Tiga Balai Benih Ikan (BBI) milik Disnakkan Ciamis juga merasakan dampak kemarau.

Ketiga BBI tersebut yakni BBI Sukamaju di Kecamatan Baregbeg, BBI Sukahurip di Kecamatan Pamarican, dan BBI Karangpaninggal di Kecamatan Purwadadi atau Pegantungan.

Di BBI Sukamaju, misalnya, ikan dipindahkan ke kolam yang masih memiliki ketersediaan air. Pengelola juga menggunakan kincir untuk membantu meningkatkan oksigen terlarut di dalam air.

“Di BBI sendiri memang krisis air juga cukup melanda kita, terutama yang di BBI Sukamaju. Kita alihkan ke kolam-kolam yang masih airnya ada dan juga dibantu dengan sistem aerasi menggunakan kincir sehingga oksigen terlarut dalam air itu kembali normal,” kata Aris.

BACA JUGA:  FTBI SD Ciamis Jadi Wadah Pengembangan Bakat Siswa di Bidang Bahasa dan Sastra

Sementara di BBI wilayah Purwadadi, ketersediaan air disebut sudah sangat terbatas dan diperkirakan hanya tersisa sekitar setengah meter.

Meski menghadapi keterbatasan air, kegiatan produksi larva di BBI tidak dihentikan. Produksi tetap diupayakan dengan menyesuaikan kondisi kolam yang tersedia.

Namun, persoalan lain muncul karena permintaan benih ikan dari masyarakat ikut menurun. Banyak kolam pembudidaya yang mengering sehingga kebutuhan terhadap benih juga berkurang.

“Secara biologis justru di musim kemarau itu produksi larva banyak. Cuma kekhawatirannya kekurangan air. Kemarin sempat produksi banyak, terus permintaan hibah juga justru menurun karena kolam-kolam pada kering,” jelasnya.

Menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi berlangsung lebih lama, Disnakkan Ciamis memilih memperkuat langkah mitigasi melalui pendampingan dan edukasi kepada pembudidaya.

Penyuluh perikanan di lapangan terus mengingatkan masyarakat mengenai efisiensi penggunaan air, pengaturan kepadatan tebar, pengelolaan kualitas air, hingga penyesuaian pemberian pakan.

Aris mengatakan langkah tersebut diperlukan agar pembudidaya mampu mengantisipasi apabila kondisi kekeringan semakin luas dan berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.

“Kita hanya edukasi saja, mengantisipasi yang lebih ekstrem. Mitigasinya seperti apa apabila memang kondisi kekeringan melanda lebih lama dan lebih luas,” pungkasnya. (Putri)