Disnakan Ciamis Teliti Keaslian Genetik Ikan Gurame Soang, Libatkan IPB dan KKP

Daerah73 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) terus berupaya memperkuat pengakuan terhadap Gurame Soang sebagai varietas ikan khas daerah. Langkah ini ditempuh lewat riset ilmiah yang melibatkan para akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan mendapat dukungan teknis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Disnakan Ciamis, Anton Wahyu, menjelaskan bahwa riset genetika menunjukkan adanya keunikan pada Gurame Soang yang membedakannya dari jenis gurame lain di berbagai daerah Indonesia, seperti Batanghari dan Kalimantan Selatan.

“Secara genetik, gurame soang dari Ciamis punya perbedaan yang cukup signifikan. Ciri khasnya terlihat dari daging yang lebih bersih, tidak berbau tanah, dan lebih gurih dibandingkan varietas lain,” ungkap Anton, Senin (20/10/2025).

Penelitian saat ini masih berfokus pada uji genetik untuk memastikan keaslian varietas tersebut. Setelah itu, tim peneliti akan melanjutkan ke uji ketahanan lingkungan dan penyakit yang akan dilakukan di Balai Benih Ikan (BBI) Ciamis serta laboratorium IPB.

“Tahap uji ketahanan ini penting untuk mengetahui sejauh mana gurame soang bisa bertahan di berbagai kondisi air serta daya tahan terhadap penyakit,” ujarnya.

Anton menuturkan, sebagian besar petani ikan di Ciamis membudidayakan gurame di daerah berair deras, yang rentan terhadap penyakit. Karena itu, pihaknya ingin memastikan gurame soang bisa beradaptasi dengan baik tanpa menurunkan kualitasnya.

Ia juga menekankan bahwa inisiatif penguatan varietas Gurame Soang merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah daerah dan para pelaku budidaya ikan lokal.

“Ini bukan kerja instan. Sudah lama para komunitas pembudidaya gurame berupaya mempertahankan ciri khas gurame Ciamis. Kami hanya melanjutkan dan memperkuat dengan pendekatan ilmiah,” katanya.

Riset bersama IPB yang dipimpin oleh Prof. Ali melibatkan pengambilan sampel dari berbagai wilayah seperti Panjalu, Panumbangan, dan daerah lain di Ciamis. Sampel-sampel itu kemudian dibandingkan dengan gurame dari daerah lain, termasuk Batanghari, Kalimantan Selatan, dan Yogyakarta.

“Hasil awal menunjukkan bahwa gurame dari beberapa daerah lain memiliki keturunan campuran dari indukan luar daerah, sedangkan gurame Ciamis menunjukkan garis genetik yang lebih murni,” papar Anton.

Dalam proses pengakuan ini, Disnakan tidak mengajukan hak paten individu, melainkan Hak Kekayaan Intelektual Komunal (HKI) agar gurame soang diakui sebagai warisan bersama masyarakat Ciamis.

“Kami ingin memastikan gurame soang menjadi milik bersama masyarakat Galuh Ciamis. Istilah ‘Soang’ artinya Setrain Ostronimus Aslina Galuh, simbol identitas khas daerah,” jelasnya.

Untuk mendukung penelitian, fasilitas di BBI Ciamis telah disiapkan sebagai pusat karantina dan uji bioflok, dengan pengawasan ketat dari IPB dan KKP. Proses pengujian dilakukan secara terpisah agar steril dan mencegah potensi penularan penyakit.

“Setiap kolam uji dipisahkan untuk menjaga keamanan biologis. Ini bagian dari upaya memastikan keaslian varietas tidak tercampur,” tambah Anton.

Ia berharap, hasil penelitian ini dapat mengantarkan Gurame Soang Ciamis ditetapkan sebagai varietas unggulan nasional, yang tidak hanya mengangkat nama Ciamis di tingkat nasional, tetapi juga membuka peluang ekspor ke pasar internasional.

“Kami ingin gurame soang menjadi ikon baru perikanan Ciamis dan kebanggaan masyarakat Galuh di kancah nasional maupun dunia,” tutup Anton. (PUTRI)