KOTA TASIK, AMNN.CO.ID – Musyawarah Cabang (Muscab) VI Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Tasikmalaya menetapkan Agus Nugraha sebagai Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Gapensi Kota Tasikmalaya masa bakti 2026-2031.
Penetapan tersebut berlangsung di Hotel Santika, Kota Tasikmalaya, Selasa (8/9/2026). Agus terpilih setelah menjadi satu-satunya peserta yang mengajukan diri dalam tahapan pencalonan ketua.
Ketua Steering Committee (SC) Muscab VI Gapensi Kota Tasikmalaya, Asep Azwar, menjelaskan proses pencalonan terlebih dahulu diawali dengan verifikasi terhadap seluruh anggota organisasi.
Dari total 45 badan usaha yang tercatat sebagai anggota Gapensi, sebanyak 30 di antaranya merupakan anggota baru. Setelah dilakukan verifikasi, terdapat 15 badan usaha yang dinilai memenuhi ketentuan untuk mengusulkan calon ketua.
“Dari 45 anggota, 30 anggota baru. Yang layak dan bisa mencalonkan itu hanya 15 perusahaan,” kata Asep.
Kesempatan pendaftaran calon diberikan selama tiga hari. Informasi mengenai proses tersebut juga telah disampaikan kepada seluruh perusahaan yang memenuhi persyaratan. Namun, hingga masa pendaftaran berakhir, hanya Agus Nugraha, Direktur CV Wahana Kama, yang mengajukan pencalonan.
Asep menyebut Agus memenuhi persyaratan organisasi, di antaranya memiliki pengalaman sebagai pengurus Gapensi serta tercatat sebagai anggota aktif selama sedikitnya tiga tahun berturut-turut.
“Dia (Agus Nugraha) sudah 23 tahun jadi anggota Gapensi, tapi belum pernah jadi ketua, baru sekretaris kemarin. Kemudian, ber-KTA Gapensi tiga tahun berturut-turut, aktif, selalu aktif bayar KTA Gapensi tiga tahun berturut-turut,” ujarnya.
Setelah ditetapkan sebagai ketua terpilih, Agus langsung menyampaikan sejumlah agenda yang akan menjadi perhatiannya selama memimpin organisasi. Salah satunya meningkatkan kesiapan anggota dalam menghadapi perubahan regulasi di sektor jasa konstruksi.
Menurut Agus, pemahaman terhadap aturan menjadi penting agar para pelaku usaha dapat mengambil peluang pekerjaan dengan persiapan yang matang.
“Kita akan bagaimana sosialisasi ke teman-teman pengusaha pelaksana konstruksi terkait dengan perubahan-perubahan regulasi supaya ketika ada peluang, kita sudah bisa menyiapkan diri,” ujar Agus.
Selain pemahaman regulasi, ia ingin mendorong peningkatan kualitas dan profesionalisme kontraktor lokal. Menurutnya, hal tersebut menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan dengan pihak pemberi pekerjaan.
Agus juga menyoroti perubahan pola pengadaan barang dan jasa pemerintah yang semakin memanfaatkan sistem digital, termasuk e-katalog. Kondisi tersebut, menurut dia, harus diikuti dengan peningkatan kemampuan para anggota, terutama kontraktor berskala kecil.
Pembinaan melalui bimbingan teknis akan terus dilakukan, termasuk mengikuti perkembangan program yang dijalankan Gapensi Jawa Barat. Agus menilai perkembangan sistem pengadaan juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk mendapatkan pekerjaan.
Selain persoalan pengadaan, sertifikasi menjadi perhatian lain dalam pembinaan anggota. Gapensi, kata Agus, berupaya membangun kerja sama dengan lembaga terkait untuk membantu anggota memenuhi kebutuhan sertifikasi badan usaha maupun sertifikasi kompetensi tenaga teknik.
“Kita juga mencoba bekerja sama dengan beberapa lembaga yang terkait dengan penerbitan sertifikat-sertifikat yang kita butuhkan. Mungkin itu ada dua, sertifikat pertama sertifikat badan usaha, yang kedua itu kompetensi terkait dengan tenaga teknik,” katanya.
Bagi Agus, berbagai persyaratan tersebut merupakan bagian dari ketentuan yang harus dijalankan oleh pelaku usaha konstruksi. Karena itu, ia mendorong anggota Gapensi tidak hanya mengejar peluang pekerjaan, tetapi juga menjaga kualitas dan kepatuhan terhadap aturan.
Ia pun berharap Gapensi dapat mengambil posisi sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam pembangunan daerah.
“Kita juga mencoba menjadi mitra strategis dengan pemerintah supaya kita juga menyiapkan diri supaya kita bisa terpercaya,” ujarnya.
Agus mengungkapkan, kondisi sektor konstruksi di Kota Tasikmalaya saat ini masih menghadapi keterbatasan pekerjaan, terutama pada proyek infrastruktur. Kebijakan pemerintah pusat yang tengah memiliki sejumlah program di luar sektor infrastruktur turut berdampak terhadap peluang kerja bagi kontraktor lokal.
“Kalau kita berbicara lokal Kota Tasik itu, infrastruktur sekarang lagi kurang. Kebijakan kalau kita lihat juga kebijakan dari pemerintah pusat, kelihatannya punya program tersendiri di luar infrastruktur,” katanya.
Meski demikian, Agus meminta para anggota tetap menjaga keberlangsungan usaha dan tidak kehilangan optimisme. Ia berharap ke depan terdapat kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi pelaku jasa konstruksi lokal untuk turut mengerjakan pembangunan di daerah.
“Kita hanya bersabar saja. Mudah-mudahan nanti ke depan ada satu kebijakan yang arahnya itu ke teman-teman jasa konstruksi,” ujarnya.
Agus juga mengingatkan para kontraktor untuk menjaga profesionalisme dalam setiap pekerjaan. Menurutnya, kualitas pekerjaan dan kepatuhan terhadap regulasi harus menjadi perhatian utama agar anggota Gapensi dapat menjalankan profesinya secara berkelanjutan.
“Kita harus meyakinkan diri bahwa profesi kita itu profesi yang akan kita tempuh berkelanjutan. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk itu, kita juga harus menjaga banyak hal terkait dengan aturan-aturan yang ada,” pungkasnya. (Putri)







