Taruna Asal Papua Pilih Politeknik Agraria STPN untuk Bekal Membangun Daerah

Nasional44 Dilihat

YOGYAKARTA, AMNN.CO.ID – Keinginan untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah menjadi alasan utama sejumlah generasi muda asal Papua memilih melanjutkan pendidikan di Politeknik Agraria STPN. Perguruan tinggi di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) itu dinilai mampu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjawab berbagai persoalan pertanahan dan tata ruang di Papua.

Salah seorang taruna yang memiliki tekad tersebut adalah Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat. Ia mengaku memilih Politeknik Agraria STPN karena melihat masih besarnya kebutuhan sumber daya manusia yang memahami bidang agraria untuk mendukung pembangunan di tanah kelahirannya.

Menurut Alfando, Papua masih menghadapi berbagai tantangan di bidang pertanahan yang membutuhkan penanganan oleh tenaga profesional yang memahami regulasi, tata ruang, dan pengelolaan pertanahan.

“Ketika memutuskan kuliah di Politeknik Agraria STPN, saya berpikir suatu saat harus bisa kembali dan berkontribusi membangun daerah. Papua masih membutuhkan banyak pembangunan, termasuk SDM yang memahami bidang pertanahan dan tata ruang,” ujarnya.

BACA JUGA:  Menteri ATR/BPN Batasi Alih Fungsi Lahan Sawah demi Ketahanan Pangan Nasional

Ia menilai ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan agraria yang masih terjadi di Papua.

Selain memperoleh pengetahuan akademik, Alfando mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga melalui sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di kampus tersebut. Menurutnya, kehidupan asrama membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan kepemimpinan yang akan berguna saat terjun ke masyarakat.

“Di sini kami belajar hidup bersama dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Selain akademik, kami juga dilatih disiplin dan kepemimpinan. Pengalaman ini menjadi modal penting ketika nanti kembali ke daerah,” katanya.

Semangat serupa juga ditunjukkan Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan. Ketertarikannya pada bidang pertanahan bermula dari hobinya melihat peta sejak kecil. Seiring perjalanan pendidikan, ia semakin memahami pentingnya ilmu pertanahan dalam kehidupan masyarakat.

Rafael menuturkan, persoalan sengketa tanah dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai hak atas tanah masih menjadi tantangan yang cukup sering ditemui di daerahnya.

“Awalnya saya tertarik karena suka melihat peta. Setelah belajar lebih dalam, saya menyadari bahwa ilmu pertanahan sangat penting karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk dalam penyelesaian sengketa tanah,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Menteri ATR/BPN Tekankan Penetapan LP2B Jadi Kewenangan Pemda

Menurut Rafael, kehadiran generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang agraria sangat dibutuhkan, terutama di wilayah Papua yang memiliki karakteristik pertanahan yang cukup kompleks.

Ia berharap setelah menyelesaikan pendidikan dapat kembali ke kampung halaman dan membantu masyarakat memahami hak-hak pertanahan agar terhindar dari berbagai persoalan hukum maupun konflik lahan.

“Harapan saya setelah lulus bisa kembali dan berbagi ilmu kepada masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat akan lebih mengetahui hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.

Bagi Alfando dan Rafael, menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan bagian dari persiapan untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah asal.

Kisah keduanya menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga profesional di bidang agraria dan tata ruang tidak hanya diperlukan di kota-kota besar, tetapi juga di daerah yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, termasuk Papua.

Politeknik Agraria STPN sendiri membuka kesempatan bagi lulusan SMA/sederajat yang tertarik mendalami bidang pertanahan dan tata ruang. Melalui berbagai program pendidikan yang tersedia, kampus tersebut diharapkan dapat mencetak sumber daya manusia yang mampu berkontribusi dalam pembangunan nasional maupun daerah.