SPPG De La Tina Ubah Sisa MBG Jadi Maggot, Kembangkan Inovasi Pengelolaan Limbah

Daerah53 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – SPPG De La Tina yang terletak di Dusun Rataharja, Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis mengembangkan inovasi pengelolaan limbah dari aktivitas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya dengan memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).

Sisa makanan yang tidak dikonsumsi maupun potongan bahan pangan yang tidak digunakan tidak langsung dibuang. Limbah organik tersebut dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk mendukung budidaya maggot yang lokasinya berada sekitar satu kilometer dari dapur SPPG.

Pengelola budidaya maggot, Tarsono, mengatakan sisa makanan dari dapur SPPG diambil untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pakan larva.

“Yang dari dapur sini (SPPG De La Tina) diambil sama saya,” ujar Tarsono, Jumat (25/9/2026).

SPPG De La Tina.

Menurut Tarsono, sisa makanan yang dimanfaatkan berkisar 11 hingga 15 kilogram per hari. Sisa tersebut terdiri atas berbagai jenis bahan pangan, seperti sayuran, buah-buahan, hingga daging.

Bahan organik tersebut kemudian diberikan kepada larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) yang dikenal sebagai maggot.

Untuk mendukung proses budidaya, lokasi tersebut telah dilengkapi sejumlah sarana, di antaranya empat biofon/biofoam dan rumah penetasan larva. Sarana tersebut digunakan untuk mendukung proses budidaya mulai dari penetasan hingga pembesaran larva.

BACA JUGA:  Ketua MUI Ciamis Ajak Pesantren Perkuat Pengawasan demi Menjaga Kehormatan Lembaga

Budidaya maggot tersebut saat ini masih dalam tahap awal pengembangan. Tarsono menyebut jumlah telur maggot yang dikelola sekitar 20 gram.

“Belum sempat menjual, soalnya ini baru perdana,” katanya.

Meski masih tahap awal, maggot yang nantinya berkembang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun hewan ternak. Sebagian sisa makanan dalam jumlah tertentu juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan di kolam yang berisi ikan nila dan gurame.

Lokasi budidaya ditempatkan terpisah dari dapur SPPG untuk memisahkan aktivitas budidaya dengan kegiatan pengolahan makanan.

Pemanfaatan sisa makanan tersebut menjadi salah satu upaya SPPG De La Tina mengurangi limbah organik sekaligus mengubahnya menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali. Dengan demikian, sisa pangan dari aktivitas dapur tidak berhenti sebagai limbah, tetapi masuk ke dalam kegiatan budidaya yang memiliki manfaat lanjutan.

IPAL BIOFAL Bersertifikat ISO

Selain mengolah limbah organik melalui budidaya maggot, SPPG De La Tina juga memiliki sistem pengelolaan untuk limbah cair yang berasal dari aktivitas dapur.

Salah satu sistem yang digunakan adalah IPAL Biofilter Anaerobik BIOFAL dari PT FAL JAYA ABADI. IPAL Biofilter Anaerobik BIOFAL tersebut telah bersertifikat ISO dan digunakan untuk membantu pengolahan air limbah yang berasal dari aktivitas dapur.

BACA JUGA:  SMAN 2 Ciamis Umumkan Kelulusan, Puluhan Siswa Lolos Jalur SNBP

Dalam prosesnya, sistem tersebut membantu mengurangi kadar pencemar pada air, di antaranya BOD (Biological Oxygen Demand), yaitu kebutuhan oksigen biologis untuk menguraikan bahan organik; COD (Chemical Oxygen Demand), yaitu kebutuhan oksigen secara kimia untuk menguraikan zat pencemar; serta TSS (Total Suspended Solids), yaitu jumlah padatan tersuspensi yang terdapat dalam air.

Penggunaan IPAL tersebut menjadi bagian dari pengelolaan air limbah setelah aktivitas produksi makanan di dapur SPPG.

Dilengkapi Sertifikat Halal dan SLHS

Selain sistem pengelolaan limbah, SPPG De La Tina juga telah memiliki sertifikat halal, Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta sertifikasi bagi penjamah makanan.

Kelengkapan tersebut berkaitan dengan penerapan standar higiene dan keamanan pangan selama proses produksi MBG.

SPPG De La Tina merupakan bagian dari SPPG Yayasan Garuda Galuh Ciamis yang mulai beroperasi pada 15 Desember 2025. Saat ini jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 2.347 orang, termasuk balita, ibu menyusui, dan ibu hamil.

Kepala SPPG De La Tina, Mohamad Ilham Syah Rizal, mengatakan pengawasan dilakukan dalam setiap tahapan penyediaan makanan, mulai dari pemeriksaan bahan baku hingga distribusi kepada penerima manfaat.

BACA JUGA:  Instruksi Presiden Prabowo Soal Audit Dana Desa, Ini Tanggapan Anggota DPRD Ciamis

“Dari mulai barang datang langsung quality control. Kita sortir mana yang layak dan mana yang tidak. Kita simpan di suhu yang memang seharusnya,” jelas Ilham.

Dengan pengelolaan tersebut, SPPG De La Tina tidak hanya menjalankan aktivitas produksi makanan untuk ribuan penerima manfaat, tetapi juga mengembangkan pengelolaan limbah dari sisi limbah organik dan limbah cair.

Sisa makanan diarahkan untuk mendukung budidaya maggot, sedangkan limbah cair ditangani melalui sistem IPAL BIOFAL. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya SPPG De La Tina membangun pengelolaan operasional dapur yang lebih terintegrasi. (MR)