Sekolah Lapangan di Cigembor Ciamis Ajarkan Petani Selamatkan Ekosistem Sawah

Daerah60 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Sejumlah petani di Desa Cigembor, Kabupaten Ciamis, mengikuti Sekolah Lapangan Pertanian yang difokuskan pada pengembangan budidaya padi organik. Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bagi petani untuk memahami teknik bercocok tanam yang lebih ramah lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem persawahan.

Program yang telah memasuki pekan ketiga ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari kelompok tani, penyuluh pertanian, kelurahan, hingga Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Ciamis.

Kepala Bidang Penyuluhan DPKP Kabupaten Ciamis, Novi Nuryanti, mengatakan pengembangan pertanian organik membutuhkan dukungan lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada petani, tetapi juga peran pemerintah dan pendamping lapangan dalam memberikan edukasi secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah terus mendorong penerapan sistem pertanian yang lebih sehat melalui berbagai kegiatan penyuluhan. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kondisi lahan pertanian yang membutuhkan perhatian agar produktivitas dan kualitas lingkungan tetap terjaga.

“Program ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Kami terus memberikan pendampingan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan tanah dan menerapkan pola pertanian yang ramah lingkungan,” katanya.

Novi menambahkan, hasil pertanian organik dari sejumlah wilayah di Ciamis mulai memiliki akses pemasaran yang lebih baik. Salah satunya beras organik yang diproduksi petani di Kecamatan Pamarican.

Di sisi lain, Koordinator Umum II Gaccors, Alik Sutaryat, menilai Sekolah Lapangan menjadi sarana penting untuk meningkatkan kemampuan petani dalam membaca kondisi ekosistem sawah. Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga melakukan pengamatan langsung terhadap perkembangan tanaman di lapangan.

Menurut Alik, setiap peserta dilatih untuk memahami hubungan antara kondisi tanah, tanaman, keberadaan serangga, hingga musuh alami hama yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

“Petani diajak belajar dari kondisi nyata yang terjadi di sawah. Mereka mengamati perubahan yang terjadi setiap minggu sehingga mampu mengambil keputusan budidaya berdasarkan kondisi lapangan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, berbagai persoalan seperti serangan hama, tingginya biaya produksi, hingga hasil panen yang belum optimal masih menjadi tantangan yang dihadapi petani. Karena itu, peserta Sekolah Lapangan dibekali pengetahuan tentang peningkatan kesuburan tanah secara alami dan pengelolaan lahan berbasis proses biologis.

Sebelum mengikuti praktik lapangan, para peserta terlebih dahulu menjalani pembelajaran di kelas selama tujuh hari. Materi yang diberikan mencakup teknik perbaikan tanah serta pengelolaan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Dalam penerapannya, petani menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI) Organik yang dinilai mampu menekan penggunaan air secara signifikan. Berdasarkan hasil pendampingan yang dilakukan, kebutuhan air dapat dihemat hingga sekitar 42 persen dibandingkan metode budidaya konvensional.

Saat ini, program tersebut masih difokuskan pada lahan percontohan seluas satu hektare. Namun, pengembangannya ditargetkan meningkat menjadi 15 hektare pada musim tanam berikutnya dan mencapai 32 hektare pada tahap selanjutnya.

Alik mengakui masih ada anggapan di kalangan petani bahwa pertanian organik sulit diterapkan dan berpotensi menurunkan hasil panen. Namun pengalaman pendampingan selama dua tahun terakhir menunjukkan hasil yang berbeda.

Menurutnya, sejumlah petani yang menerapkan sistem organik secara konsisten justru mampu meningkatkan produktivitas lahan. Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah capaian panen hingga 9,6 ton per hektare, meningkat dibandingkan hasil sebelumnya yang berada di kisaran lima ton per hektare.

“Ketika petani memahami konsep dan menerapkannya dengan benar, pertanian organik tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga mampu meningkatkan hasil produksi,” pungkasnya. (Putri)