Ciamis, AMNN.co.id – Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kabupaten Ciamis menyelenggarakan Workshop Penyusunan Dokumen Kurikulum Madrasah yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Pembelajaran Terintegrasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan madrasah jenjang Madrasah Aliyah (MA) se-Kabupaten Ciamis, Kamis (24/7/2025).
Ketua Pelaksana Workshop, E. Zenal Mutaqin, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas tim pengembang kurikulum di setiap madrasah serta menyelaraskan arah kebijakan pendidikan dengan regulasi terbaru.
“Workshop ini kami selenggarakan sebagai respons atas perubahan regulasi, khususnya Permendikbud Nomor 11 dan 13 Tahun 2024 tentang kurikulum. Meskipun regulasi tersebut dikeluarkan oleh Kemendikbud, madrasah tetap harus menyesuaikan. Saat ini kami masih mengacu pada PMA Nomor 450 Tahun 2024 karena regulasi baru dari Kementerian Agama belum diterbitkan,” jelas Zenal.
Dalam kegiatan tersebut, PGMI Ciamis juga memperkenalkan dua pendekatan baru dalam pembelajaran, yakni deep learning (pembelajaran mendalam) dan Kurikulum Berbasis Cinta. Kedua pendekatan ini dinilai selaras dengan nilai-nilai spiritualitas dan keagamaan yang menjadi ciri khas madrasah.
“Kami sengaja memasukkan materi tentang integrasi deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bentuk kesiapan menyambut kebijakan baru dari Kementerian Agama yang akan meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta malam ini,” katanya.
Workshop ini diikuti oleh para Ketua Tim Pengembang Kurikulum dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan MA. Para pemateri merupakan pengawas madrasah yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan serupa di Bandung.
“Para pengawas sudah dibekali materi tentang pembelajaran terintegrasi, termasuk pendekatan deep learning dan nilai-nilai cinta dalam pendidikan. Ini penting karena madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak mulia siswa,” tambahnya.
Zenal juga menyebutkan bahwa dalam pengembangan kurikulum terbaru terdapat penguatan pada nilai-nilai keagamaan dan pembentukan karakter mulia, yang sebelumnya dikenal sebagai Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan kini diperluas menjadi Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin di lingkungan madrasah.
Ia menegaskan bahwa meskipun regulasi resmi dari Kementerian Agama belum diterbitkan, workshop ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para guru untuk memahami arah kebijakan yang akan diterapkan.
“Sambil menunggu regulasi resmi, madrasah dapat menggunakan acuan yang ada. Ketika aturan baru diterbitkan, tinggal dilakukan revisi sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan deep learning sangat relevan diterapkan di era digital saat ini. Guru juga didorong untuk memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), guna menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna.
“Kurikulum ini bukan hanya soal konten akademik, tetapi juga pembentukan karakter, penanaman nilai cinta, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung pendidikan. Ini bagian dari upaya menyiapkan generasi emas Indonesia 2045,” pungkas Zenal. (PUTRI)