KKRA Ciamis Siapkan Guru RA Hadapi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta

Pendidikan62 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Penguatan karakter peserta didik menjadi fokus utama dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang mulai disosialisasikan di lingkungan madrasah. Bagi jenjang Raudhatul Athfal (RA), pendekatan tersebut dinilai selaras dengan pola pembelajaran yang selama ini menempatkan kasih sayang sebagai fondasi pendidikan anak usia dini.

Ketua Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengatakan guru RA pada dasarnya telah terbiasa membangun pembelajaran yang mengedepankan kedekatan emosional dengan peserta didik. Karena itu, implementasi KBC dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi guru RA.

Menurutnya, proses belajar di RA tidak cukup hanya menyampaikan materi. Guru juga harus mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, dan bahagia sehingga anak dapat berkembang sesuai tahap usianya.

“Guru RA harus mengajar dengan hati. Anak-anak harus diterima tanpa membedakan latar belakangnya sehingga mereka merasa dicintai dan dihargai selama berada di sekolah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembelajaran mendalam mengacu pada tiga prinsip utama, yaitu pembelajaran yang bermakna (meaningful), dilakukan secara sadar (mindful), dan berlangsung dalam suasana yang menyenangkan (joyful).

BACA JUGA:  Prestasi Membanggakan, Siswi MI Ciamis Juara di Turnamen JSSL Singapore

Penerapan konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas yang mendorong anak aktif berpikir sesuai tingkat perkembangannya, mulai dari mengenal angka, berhitung sederhana, mengamati lingkungan sekitar, hingga belajar memecahkan persoalan melalui kegiatan bermain.

Selain itu, guru didorong menciptakan pembelajaran yang tidak monoton dengan memanfaatkan lagu, permainan edukatif, alat peraga, maupun kegiatan di luar ruang kelas agar peserta didik tetap antusias mengikuti proses belajar.

Lalis menuturkan, Kurikulum Berbasis Cinta juga mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta yang meliputi cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, cinta kepada sesama, serta cinta kepada diri sendiri.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan sejak usia dini karena menjadi bekal penting dalam membentuk akhlak dan karakter anak.

“Akidah menjadi pondasi utama. Ketika anak memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah, maka akan tumbuh sikap disiplin, peduli terhadap sesama, mencintai lingkungan, dan semangat untuk belajar,” katanya.

Ia menambahkan, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam menyukseskan implementasi kurikulum baru. Karena itu, selain mengikuti workshop, para guru juga terus didorong mengikuti berbagai pelatihan, forum diskusi, Kelompok Kerja Guru (KKG), hingga kegiatan kolaborasi dengan berbagai mitra pendidikan.

BACA JUGA:  Rangkaian HAB ke-80, Kemenag Ciamis Pertandingkan Voli Putra-Putri

Berbagai materi yang diberikan dalam workshop tidak hanya berkaitan dengan penyusunan dokumen kurikulum, tetapi juga teknik merancang pembelajaran kreatif dan pembuatan media belajar yang sesuai dengan karakter anak usia dini.

Untuk memastikan implementasi berjalan sesuai ketentuan, KKRA Kabupaten Ciamis akan melakukan pemantauan penyusunan dokumen Kurikulum Berbasis Cinta melalui sistem pelaporan berbasis Google Form. Langkah tersebut diharapkan dapat memudahkan proses monitoring sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pengawas madrasah di setiap kecamatan.

“Apabila masih terdapat guru atau lembaga yang mengalami kesulitan dalam menyusun dokumen kurikulum, pengawas pembina akan memberikan pendampingan agar seluruh RA dapat menerapkannya secara optimal,” jelas Lalis.

Ia berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak mulia, kepedulian sosial, serta kecintaan kepada agama sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. (Putri)