Yayasan Rumah Naskah Nusantara Perkuat Literasi Budaya Lewat Pelatihan Baskara

Libatkan akademisi dan praktisi budaya untuk mengenalkan naskah kuno kepada generasi muda

Daerah47 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Di tengah tantangan pelestarian budaya lokal, Yayasan Rumah Naskah Nusantara menghadirkan Pelatihan Bahasa, Sastra, dan Aksara (Baskara) sebagai ruang pembelajaran aksara dan manuskrip Sunda bagi generasi muda. Kegiatan tersebut digelar di Hotel Larissa Ciamis, Kamis (18/12/2025).

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap kekayaan bahasa, sastra, serta aksara Sunda yang tersimpan dalam berbagai naskah dan manuskrip kuno, khususnya yang tersebar di wilayah Kabupaten Ciamis.

Pelatihan Baskara tersebut merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025, pada kategori dukungan institusional bagi keberlanjutan organisasi kebudayaan. Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Sejumlah akademisi dan praktisi dihadirkan sebagai pemateri, antara lain Redaktur Majalah Mangle Dr. R. Dian Hendrayana, S.S., M.Pd, dosen Universitas Padjadjaran sekaligus pakar filologi Dr. Elis Suryani N.S., M.Hum, serta dosen Unpad yang juga pakar sastra dan kajian budaya Dr. Taufik Ampera, M.Hum.

Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara, Gunari Putra Erisman, M.Hum, menuturkan bahwa pelatihan Baskara difokuskan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di Ciamis agar memiliki pengetahuan dasar tentang manuskrip Sunda dari sisi bahasa, sastra, dan aksara.

“Ciamis memiliki banyak peninggalan naskah kuno. Karena itu, masyarakat perlu dibekali pemahaman agar warisan tersebut tidak hanya dikenal, tetapi juga dipahami dengan benar,” kata Gunari.

Menurutnya, sasaran utama pelatihan ini adalah pelajar, mahasiswa, serta pengelola dan penggiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengenali serta menggunakan aksara dan bahasa Sunda yang terdapat dalam naskah-naskah lama.

Dalam penyelenggaraannya, Yayasan Rumah Naskah Nusantara turut menggandeng berbagai pihak, di antaranya Pusat Budaya Sunda HUdman, Majalah Mangle, serta sejumlah perguruan tinggi seperti Unpad, UPI, Unigal, dan UID.

Gunari menjelaskan, metode pembelajaran yang digunakan lebih menitikberatkan pada praktik langsung. Peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga dilibatkan dalam latihan menulis menggunakan aksara yang dipelajari.

“Kami ingin peserta benar-benar merasakan langsung prosesnya, mulai dari memahami naskah hingga menulis sederhana, seperti biodata pribadi,” ujarnya.

Ia mengakui, tantangan terbesar dalam pelestarian aksara dan bahasa Sunda adalah anggapan bahwa warisan budaya tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Namun demikian, pihaknya menilai keberlangsungan bahasa dan sastra Sunda masih sangat bergantung pada peran generasi muda.

“Selama bahasa dan sastranya masih digunakan, Sunda akan tetap ada. Itulah pesan utama yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat, khususnya di Ciamis,” ucapnya.

Pelatihan Baskara ini diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa dan pelajar dengan latar belakang pendidikan yang beragam. (PUTRI)