CIAMIS, AMNN.CO.ID – UPTD Parkir Kota Tasikmalaya menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor parkir melalui penerapan sistem pembayaran non-tunai berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Kepala UPTD Parkir Kota Tasikmalaya, Uem Haeruman, menyebutkan bahwa digitalisasi pembayaran parkir menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan pendapatan daerah sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan di lapangan.
“Penerapan QRIS ini diharapkan bisa mendorong peningkatan PAD, karena sistemnya lebih transparan dan tercatat dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, skema pembagian hasil tetap mengacu pada sistem 70:30, yakni 70 persen untuk juru parkir dan 30 persen disetorkan ke kas daerah. Dengan sistem non-tunai, potensi kebocoran pendapatan dapat diminimalisir karena seluruh transaksi tercatat secara digital.
Saat ini, uji coba pembayaran QRIS baru diterapkan di sejumlah titik di kawasan Jalan HZ, tepatnya di depan Toko Ananda dan Toko Seni Abadi. Meski baru berjalan sekitar lima hari, sistem ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat sebagai alternatif pembayaran selain tunai.
“Memang saat ini masih didominasi pembayaran tunai, tetapi kami optimistis ke depan masyarakat akan semakin terbiasa menggunakan QRIS,” kata Uem.
Untuk mendukung implementasi tersebut, setiap juru parkir telah difasilitasi rekening pribadi sehingga hasil pendapatan dapat langsung diterima secara aman.
Di sisi lain, UPTD Parkir Kota Tasikmalaya menargetkan PAD dari sektor parkir tahun ini mencapai Rp2,65 miliar, meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp1,2 miliar.
UPTD Parkir saat ini mengelola parkir di tepi jalan umum dengan melibatkan 403 juru parkir aktif.
Dengan penerapan QRIS dan penguatan sistem pengelolaan, pemerintah berharap sektor parkir dapat menjadi salah satu sumber PAD yang lebih optimal dan akuntabel. (putri)
