Tantangan Mendidik Anak di Era Gadget, KKRA Panumbangan Ciamis Soroti Peran Orang Tua

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, peran orang tua menjadi kunci dalam membimbing anak agar bijak menggunakan gadget dan tidak terjebak dampak negatifnya.

Pendidikan51 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Tantangan mendidik anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan pola perilaku menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan anak usia dini. Penguatan peran keluarga dan sekolah dinilai menjadi kunci untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, serta kemampuan melindungi diri.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar parenting yang diselenggarakan Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Kamis (5/11/2026).

Bertempat di Gedung Dakwah Panumbangan, kegiatan bertema “Menuju RA Aman Berkarakter, Sekolah Ramah Akhlak dan Moral” itu diikuti 633 orang tua dan wali murid dari 18 lembaga RA se-Kecamatan Panumbangan.

Seminar menghadirkan Dede Sundara, S.I.Kom., CHT. sebagai narasumber. Materi yang diberikan mencakup pengasuhan positif, perlindungan anak, pembentukan karakter, hingga langkah pencegahan perundungan atau bullying sejak usia dini.

Ketua KKRA Kecamatan Panumbangan, Titing Yeni, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan cara pandang orang tua dan pendidik dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Menurutnya, membentuk karakter tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan kebiasaan positif yang diterapkan secara konsisten, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.

Ia mencontohkan pentingnya menghidupkan kembali tradisi bercerita dan mendongeng bersama anak. Aktivitas sederhana tersebut bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan moral sekaligus membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Titing menilai pola pengasuhan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu tantangan yang kini dihadapi keluarga adalah penggunaan gadget yang semakin mudah dijangkau anak-anak.

Kemudahan mengakses berbagai informasi melalui perangkat digital harus diimbangi dengan pengawasan orang tua. Sebab, tidak semua konten yang tersedia sesuai dengan kebutuhan dan usia perkembangan anak.

Karena itu, pendampingan keluarga sangat diperlukan agar anak tidak mudah terpengaruh tayangan negatif yang berpotensi membentuk perilaku kurang baik.

BACA JUGA:  SMPN 2 Cihaurbeuti Libatkan Orang Tua di Hari Pertama MPLS, Perkuat Sinergi Pendidikan Siswa Baru

Ia juga berharap seminar tersebut tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, melainkan mampu menghasilkan perubahan dalam praktik pengasuhan sehari-hari.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak membutuhkan keterlibatan bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Komunikasi yang terjalin secara berkelanjutan akan memudahkan guru dan orang tua dalam mengetahui perkembangan maupun permasalahan yang dihadapi anak.

Terkait pencegahan bullying, Titing mengingatkan para guru agar tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memperhatikan kondisi dan karakter setiap peserta didik.

Pengenalan terhadap perilaku masing-masing anak dinilai penting agar guru dapat mengetahui lebih awal apabila muncul tanda-tanda perundungan di lingkungan sekolah.

Orang tua pun diharapkan memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup sehingga anak tumbuh dengan rasa aman dan nyaman.

Sementara itu, Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengapresiasi keterlibatan ratusan orang tua dalam seminar tersebut.

Ia melihat tingginya antusiasme peserta dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama kegiatan berlangsung. Berbagai persoalan yang muncul menunjukkan bahwa orang tua masih membutuhkan ruang belajar dan pendampingan untuk memahami pola pengasuhan yang tepat.

Salah satu persoalan yang banyak dialami keluarga adalah mengendalikan emosi ketika menghadapi tingkah laku anak di rumah.

Misalnya, saat anak bermain dan membuat kondisi rumah berantakan, sementara orang tua harus menyelesaikan pekerjaan lain atau sedang mengalami kelelahan setelah beraktivitas.

Melalui materi yang diberikan, orang tua diajak untuk mengubah cara memandang perilaku anak. Kondisi rumah yang berantakan akibat anak bermain tidak selamanya harus dianggap sebagai masalah. Aktivitas tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses eksplorasi dan perkembangan anak.

Hj. Lalis juga mengingatkan bahwa kebutuhan anak bukan hanya berkaitan dengan materi dan fasilitas pendidikan. Perhatian serta kedekatan emosional dari orang tua memiliki peran besar dalam membangun rasa percaya diri dan keamanan psikologis anak.

BACA JUGA:  Keren, Siswi SDN 7 Ciamis Sabet Emas di Ajang BMW Championship 1 Road to Malaysia

Salah satu bentuk perhatian yang dianjurkan adalah membiasakan memeluk anak sebelum berangkat sekolah. Kontak fisik penuh kasih sayang tersebut diharapkan membuat anak merasa dihargai, dicintai, dan mendapatkan dukungan dari keluarganya.

Dalam pemaparannya, Hj. Lalis menyampaikan lima kebiasaan yang dapat diterapkan orang tua untuk memperkuat hubungan emosional sekaligus membangun karakter anak.

Pertama, orang tua dianjurkan mengantarkan anak ke sekolah dengan perasaan bahagia dan senyuman. Suasana positif sejak awal hari diharapkan memberikan semangat kepada anak ketika memulai aktivitasnya.

Kedua, membiasakan memberikan pelukan kepada anak. Ia menyarankan orang tua memeluk anak sambil menempelkan pipi selama kurang lebih 20 detik sebagai bentuk ungkapan kasih sayang dan perhatian.

Ketiga, mengenalkan nilai-nilai keagamaan melalui kebiasaan mengingat dan menyebut nama Allah SWT dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Dengan pembiasaan tersebut, anak diharapkan tumbuh dengan fondasi spiritual yang kuat.

Keempat, orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan cerita anak. Komunikasi tidak seharusnya hanya berisi perintah dan nasihat, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalaman maupun perasaannya.

Salah satu kegiatan yang dianjurkan adalah membiasakan berkisah setiap malam Senin. Orang tua dapat memanfaatkan cerita keteladanan Nabi Muhammad SAW untuk mengenalkan nilai-nilai kebaikan kepada anak dengan cara yang menyenangkan.

Kelima, melatih kemandirian melalui pemberian tanggung jawab sederhana sesuai usia dan kemampuan anak.

Anak dapat mulai dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga, seperti membantu mengepel lantai atau mencuci piring. Selain melatih kemandirian, pembiasaan tersebut juga mengajarkan tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Orang tua juga perlu memberikan edukasi mengenai perlindungan diri, terutama dengan mengenalkan bagian tubuh yang harus dijaga serta mengajarkan anak memahami batasan terhadap tubuhnya sendiri.

BACA JUGA:  SMAN 2 Ciamis Gelar L2M XVI, Cetak Karakter Pelajar Tangguh

Untuk memastikan berbagai kebiasaan positif tersebut berjalan secara berkelanjutan, seminar parenting ini turut memperkenalkan konsep Buku Rapor Orang Tua.

Instrumen tersebut menjadi sarana bagi keluarga untuk mencatat sekaligus mengevaluasi praktik pengasuhan yang dilakukan setiap hari.

Beberapa hal yang menjadi bahan evaluasi di antaranya kebiasaan memberikan pelukan kepada anak, kegiatan bercerita bersama, serta pemberian tanggung jawab sederhana di rumah.

Melalui pencatatan tersebut, orang tua diharapkan lebih menyadari sejauh mana perhatian dan pendampingan telah diberikan kepada anak.

Selanjutnya, guru dapat melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Hasilnya diharapkan menjadi bahan komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga dalam melihat perkembangan kebiasaan serta karakter peserta didik.

Dalam kesempatan yang sama, Hj. Lalis juga mengingatkan tenaga pendidik mengenai penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar.

Menurutnya, guru perlu memberikan perhatian penuh kepada peserta didik sehingga penggunaan gadget harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak mengganggu proses pembelajaran.

Ia memahami bahwa berbagai pekerjaan administrasi dan tugas kedinasan saat ini banyak dilakukan melalui perangkat digital. Namun, tenaga pendidik tetap harus mampu mengatur penggunaannya agar interaksi dengan anak tidak terabaikan.

Lebih jauh, ia berharap seluruh lembaga Raudhatul Athfal di Kabupaten Ciamis terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pembentukan karakter.

Kepercayaan masyarakat terhadap RA, menurutnya, perlu dibangun melalui komitmen nyata dalam memberikan pendidikan yang memperhatikan perkembangan intelektual, moral, dan akhlak anak.

Dengan sinergi antara orang tua dan tenaga pendidik, lembaga RA diharapkan mampu menjadi lingkungan pendidikan yang memberikan rasa aman sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan sebagai bekal anak dalam menjalani kehidupan di masa mendatang. (PUTRI)