SMAN 1 Ciamis Jadikan EXSIS NISKALA 2026 Ruang Ekspresi Budaya Lokal

Kegiatan dua hari ini menjadi wadah kreativitas siswa dalam menggali dan melestarikan budaya Parahyangan melalui seni dan pertunjukan.

Pendidikan22 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Nuansa budaya Parahyangan terasa kental di lingkungan SMA Negeri 1 Ciamis saat menggelar kegiatan EXSIS NISKALA 2026, sebuah pentas seni dan kreativitas siswa yang menampilkan ragam ekspresi kearifan lokal Sunda.

Mengusung tema “Ngalanglang Rasa, Ngalanggeng Karya, Niskala Parahyangan”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 26 hingga 27 Januari 2026, dan menjadi ruang aktualisasi siswa dalam mengeksplorasi nilai-nilai budaya daerah yang mulai jarang disentuh generasi muda.

Beragam pertunjukan seni ditampilkan, mulai dari tari, teater, hingga sastra, dengan mengangkat cerita dan tradisi khas Sunda seperti Seren Taun, Sekar Sunda, serta legenda Mundinglaya di Kusumah. Setiap kelas menampilkan tema yang berbeda sebagai hasil riset dan pembelajaran mereka terhadap budaya yang diangkat.

Pada hari kedua, EXSIS NISKALA 2026 semakin semarak dengan kehadiran seniman dari berbagai sanggar seni serta Sakola Motekar, komunitas yang konsen pada pelestarian budaya Sunda melalui pengenalan kaulinan barudak atau permainan tradisional anak.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 1 Ciamis, Jaen, menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah konkret sekolah dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal di tengah derasnya arus budaya global.

BACA JUGA:  Afwaja Center Seleksi Calon Mahasiswa Terbaik untuk Kuliah di Al Azhar Mesir

“Budaya lokal saat ini mulai terpinggirkan karena pengaruh budaya luar. Melalui kegiatan ini, kami mendorong siswa untuk mengenal, memahami, dan bangga terhadap budaya Parahyangan yang menjadi identitas mereka,” kata Jaen.

Ia menambahkan, seluruh konsep pertunjukan hingga pembuatan properti sepenuhnya digagas oleh siswa. Kebebasan berkreasi tersebut bertujuan menumbuhkan daya cipta, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama antarsiswa.

“Kami hanya memberikan koridor temanya, selebihnya siswa yang menentukan sendiri cerita, konsep, sampai properti panggung. Dari sini terlihat potensi dan kreativitas mereka,” ujarnya.

Kegiatan ini juga terintegrasi dengan proses pembelajaran lintas mata pelajaran. Kelas XII menampilkan pagelaran seni yang dikaitkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, sementara kelas XI mengelola stand kuliner sebagai implementasi pembelajaran kewirausahaan. Adapun siswa kelas X menjadikan kegiatan ini sebagai sarana belajar dan penguatan wawasan budaya.

Menurut Jaen, penguatan budaya lokal sejalan dengan nilai Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer) yang menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik di Jawa Barat.

BACA JUGA:  Disnakan Ciamis Teliti Keaslian Genetik Ikan Gurame Soang, Libatkan IPB dan KKP

“Pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Nilai-nilai budaya lokal mengajarkan sopan santun, kepedulian sosial, dan harmoni dengan lingkungan,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam memanfaatkan teknologi agar tidak mengikis jati diri generasi muda.

“Teknologi harus kita manfaatkan sebagai alat, bukan sebaliknya. Identitas budaya harus tetap menjadi pegangan di tengah perkembangan zaman,” pungkas Jaen. (Putri)