PASI Kota Tasikmalaya Komitmen Hidupkan Kembali Nilai-Nilai Budaya Sunda 

Daerah85 Dilihat

KOTA TASIK, AMNN.CO.ID – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pasundan Istri (PASI) Kota Tasikmalaya masa bakti 2026-2031 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi pelantikan yang berlangsung di Aula Binangkit Hotel Mandalawangi, Selasa (7/7/2026).

Kepengurusan baru ini menegaskan komitmennya untuk memperkuat pelestarian budaya Sunda sekaligus mengembangkan program pemberdayaan perempuan dan ketahanan keluarga.

Hj. Elin Herlina, M.Pd. kembali mendapat amanah sebagai Ketua DPC PASI Kota Tasikmalaya setelah terpilih melalui mekanisme Konferensi Daerah (Konferda). Ini menjadi periode keduanya memimpin organisasi perempuan di bawah naungan Paguyuban Pasundan tersebut.

Menurut Elin, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah semakin berkurangnya kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap budaya dan bahasa Sunda. Pergeseran tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama agar warisan budaya daerah tetap terpelihara.

“Budaya Sunda saat ini mulai mengalami pergeseran. Etika, tata krama, hingga penggunaan bahasa Sunda mulai ditinggalkan. Padahal bahasa Sunda memiliki tingkatan yang mencerminkan penghormatan kepada lawan bicara,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, setelah pelantikan, langkah awal yang akan dilakukan adalah memperkuat konsolidasi internal organisasi sekaligus mengenalkan kembali sejarah serta kiprah Pasundan Istri kepada masyarakat. Menurutnya, PASI merupakan organisasi perjuangan yang sejak awal berdiri turut mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.

Dalam menjalankan roda organisasi lima tahun ke depan, PASI tetap berpedoman pada nilai-nilai Dasawaluya, yakni membentuk perempuan yang cageur, bageur, bener, pinter, singer, jujur, junun, akur, teuneung, dan ludeung. Nilai tersebut akan diterapkan dalam berbagai program yang menyasar perempuan di berbagai lapisan masyarakat.

Selain menjaga kelestarian budaya Sunda, PASI juga berupaya melibatkan generasi muda, termasuk generasi Z dan Alfa, agar lebih mengenal identitas budaya daerah sekaligus terdorong untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial.

“Kami ingin memberikan ruang kepada generasi muda untuk ikut berjuang bersama Pasundan Istri agar nilai-nilai budaya Sunda tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.

Di bidang sosial, organisasi ini akan melanjutkan berbagai kegiatan kemanusiaan yang selama ini telah berjalan, seperti pendampingan anak-anak kurang mampu, pembinaan bagi anak panti, hingga kepedulian terhadap lansia terlantar melalui kerja sama dengan berbagai komunitas.

Elin menambahkan, arah program ke depan juga akan difokuskan pada penguatan ketahanan keluarga. Menurutnya, pendekatan berbasis keluarga dinilai lebih efektif karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap tahapan kehidupan, mulai dari keluarga yang memiliki balita, remaja, hingga lansia.

“Kami ingin setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat sesuai kondisi keluarganya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya.

Saat ini DPC PASI Kota Tasikmalaya memiliki 134 anggota yang diharapkan mampu menjadi penggerak berbagai kegiatan organisasi di bidang sosial, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra, mengapresiasi keberadaan Pasundan Istri yang dinilai konsisten menjaga dan mengenalkan kembali budaya Sunda kepada masyarakat

Menurutnya, perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda mulai asing dengan berbagai kekayaan budaya lokal, mulai dari bahasa, kesenian, kuliner tradisional, hingga kerajinan khas daerah.

“Anak-anak sekarang banyak yang sudah tidak mengenal budaya daerah. Ini menjadi tantangan bersama agar identitas budaya Tasikmalaya tetap terjaga,” katanya.

Ia berharap kepengurusan PASI periode 2026-2031 mampu menghadirkan program yang terarah dan memiliki fokus yang jelas, terutama dalam membangun regenerasi budaya melalui pelibatan generasi muda.

Sebagai informasi, Pasundan Istri (PASI) merupakan organisasi otonom perempuan di bawah Paguyuban Pasundan yang berdiri pada 27 Juni 1931. Organisasi tersebut didirikan oleh tokoh perempuan Sunda, di antaranya Emma Poeradiredja, dengan tujuan memperjuangkan pendidikan, emansipasi perempuan, hak-hak perempuan, serta meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. (Eput)