Ciamis, AMNN.co.id – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Ciamis belum menunjukkan hasil menggembirakan. Data terbaru mencatat partisipasi masyarakat baru mencapai 3,7 persen, naik tipis dari sebelumnya hanya 2 persen. Meski ada kenaikan, angka itu masih jauh dari target nasional 40 persen pada Desember 2025.
Ciamis pun masih berada di peringkat ke-20 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius, mengapa layanan kesehatan gratis justru kurang diminati masyarakat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan Ciamis, dr. Eni Rochaeni, tidak menampik rendahnya capaian tersebut. Ia mengakui, sejak awal banyak kendala yang menghambat pelaksanaan program.
“Awalnya program ini menggunakan aplikasi Satu Sehat. Banyak warga, terutama usia produktif dan lansia, tidak memiliki ponsel atau kesulitan mengakses aplikasi. Akhirnya sistem diubah menjadi manual lewat puskesmas,” ujar Eni, Sabtu (16/8/2025).
Selain faktor teknologi, keterbatasan akses geografis serta minimnya kesadaran masyarakat juga dinilai memperparah situasi. Padahal, program ini menyasar semua kelompok usia, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, hingga lansia.
Pemeriksaan pun dilakukan secara spesifik. Untuk bayi dan balita diarahkan pada deteksi dini risiko stunting, sedangkan bagi usia produktif difokuskan pada penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes.
Menyadari rendahnya minat warga, Dinkes kini mengubah strategi dengan meniru pola skrining COVID-19, yakni jemput bola ke sekolah, desa, hingga lokasi keramaian.
“Tim puskesmas sekarang tidak menunggu. Kami turun langsung membuka layanan di sekolah, desa, sampai acara masyarakat,” kata Eni
Meski ada peningkatan partisipasi, langkah ini masih jauh dari memadai. Dengan sisa waktu hanya beberapa bulan menuju target nasional, kerja keras ekstra jelas dibutuhkan. Promosi di media sosial sudah dilakukan, tetapi jangkauannya terbatas.
“Harapannya, tahun ketiga nanti seluruh masyarakat bisa terlayani 100 persen,” pungkas Eni. (PUTRI)