KKRA Baregbeg Gelar Seminar Parenting, Perkuat Pendidikan Karakter Anak

Pendidikan18 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Pendidikan karakter anak usia dini tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Peran orang tua di rumah dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan, akhlak, dan perilaku anak.

Hal tersebut menjadi perhatian Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) Kecamatan Baregbeg melalui Seminar Parenting Orang Tua se-Kecamatan Baregbeg yang digelar di Gedung Dakwah Islam Baregbeg, Sabtu (29/8/2026).

Mengangkat tema “Menuju RA Aman Berkarakter, Sekolah Ramah Akhlak dan Moral”, kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Divisi Pemulihan KPAID Tasikmalaya, Dede Sundara, sebagai narasumber.

Ketua KKRA Kecamatan Baregbeg, Mamah Mustaqimah, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan untuk membangun kesamaan pola pendidikan antara guru di madrasah dengan orang tua di lingkungan keluarga.

Menurutnya, waktu anak berada di sekolah relatif terbatas. Karena itu, pendidikan yang diberikan guru perlu diteruskan melalui pola asuh dan pembiasaan yang sama ketika anak berada di rumah.

“Kalau di sekolah gurunya mengajar dengan penuh cinta, tetapi di rumah tidak seperti itu, akhirnya tidak sinergis. Makanya kami mengadakan kegiatan ini agar pendidikan di sekolah dan di rumah bisa berjalan bersama,” ujar Mamah.

Ia menyebut keberagaman latar belakang orang tua, baik dari sisi pendidikan, sosial maupun ekonomi, menjadi salah satu tantangan dalam membangun pola pengasuhan yang seragam.

Karena itu, KKRA tidak menjadikan seminar sebagai kegiatan satu kali. Orang tua diberikan buku sebagai panduan sekaligus sarana pencatatan penerapan materi parenting dalam kehidupan sehari-hari.

“Setiap hari orang tua menjalankannya, kemudian setiap bulan dilaporkan kepada guru. Ini dilakukan selama tiga bulan. Setelah itu dikumpulkan lagi untuk dilakukan follow up,” katanya.

Dengan pola tersebut, Mamah berharap hasil seminar benar-benar diterapkan dalam keluarga. Perubahan karakter, kata dia, diharapkan tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga dimulai dari orang tua.

“Harapannya ibu, ayah dan anaknya sama-sama berubah menjadi lebih baik. Anak-anak juga diharapkan menjadi anak yang lebih saleh,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua KKRA Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, menilai konsep RA yang aman dan berkarakter harus diwujudkan melalui lingkungan pendidikan yang mampu memberikan rasa nyaman kepada anak.

Ia menekankan pentingnya mencegah perundungan serta membangun hubungan sosial yang sehat di antara peserta didik. Anak juga perlu dibiasakan untuk saling menyapa, berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik.

“Anak-anak harus bisa bersosialisasi dengan bagus dan tidak ada pembullyan. Kemudian ketauhidan kepada Allah juga harus ditanamkan, sehingga apa pun yang dilakukan anak selalu dikaitkan dengan Allah SWT,” jelasnya.

Lalis mengatakan proses pendidikan juga harus melibatkan orang tua. Guru tidak dapat berjalan sendiri dalam membentuk karakter anak karena sebagian besar waktu anak justru dihabiskan bersama keluarga.

Menurutnya, kegiatan parenting menjadi salah satu sarana bagi orang tua untuk mendapatkan pengetahuan mengenai cara mendidik dan mendampingi anak.

“Yang belajar bukan hanya gurunya, tetapi orang tua juga harus belajar,” katanya.

Selain orang tua, Lalis menilai tenaga pendidik harus memberikan keteladanan. Nilai akhlak dan moral yang disampaikan kepada peserta didik harus tercermin dalam perilaku guru sehari-hari.

“Guru harus menjadi teladan yang baik, menjadi uswatun hasanah. Dari tindakan, perilaku dan ucapan, kita harus menunjukkan nilai yang baik dan positif,” tegasnya.

Ia berharap lembaga RA tidak hanya memberikan pembelajaran kepada anak, tetapi juga mampu mengajak orang tua memperbaiki pola pengasuhan serta memberikan contoh yang baik di lingkungan keluarga.

Pengawas RA Kemenag Ciamis, H. Koyo, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak.

Menurutnya, pembentukan karakter tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua, lembaga pendidikan dan Kementerian Agama harus memiliki arah yang sama.

“Ketika membentuk karakter anak, semua unsur yang berkepentingan harus bersama-sama, mulai dari orang tua, lembaga pendidikan, sampai institusi Kementerian Agama,” ujarnya.

H. Koyo menyebut RA di Kecamatan Baregbeg menunjukkan perkembangan positif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak. Kesiapan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari yayasan, komite, tenaga pendidik hingga orang tua.

Ia juga menjelaskan bahwa pembinaan terhadap lembaga RA dilakukan secara berkala melalui supervisi akademik dan manajerial. Evaluasi tidak hanya menyangkut proses pembelajaran, tetapi juga kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang serta pembentukan karakter anak.

“Kegiatan parenting ini merupakan salah satu bentuk respons dari pihak orang tua. Ini penting karena keberhasilan pembentukan karakter anak bukan hanya bertumpu pada tenaga pendidik,” katanya.

Dari sisi tenaga pendidik, H. Koyo menyebut kualifikasi pendidikan guru RA di Kecamatan Baregbeg juga semakin baik. Hampir seluruh tenaga pendidik di wilayah tersebut telah memiliki kualifikasi S1.

Ia berharap komunikasi antara lembaga pendidikan dan orang tua terus dilakukan secara rutin. Menurutnya, pertemuan semacam parenting dapat menjadi wadah untuk menyatukan pemahaman mengenai pola pendidikan anak.

“Visi dan misi lembaga, institusi, serta orang tua perlu disatukan. Dengan begitu, pelaksanaannya bisa berjalan satu arah dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan,” pungkasnya. (putri)