FTBI SD Ciamis Jadi Wadah Pengembangan Bakat Siswa di Bidang Bahasa dan Sastra

Pendidikan26 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Kabupaten Ciamis berlangsung di SDN 1 Cijeungjing, Kamis (27/8/2026).

Sebanyak 378 peserta dari 27 kecamatan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka merupakan delegasi hasil seleksi dari masing-masing kecamatan yang mengikuti berbagai cabang berkaitan dengan bahasa dan sastra Sunda.

FTBI menjadi agenda tahunan yang memberikan ruang kepada pelajar untuk mengembangkan keterampilan berbahasa sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan sastra Sunda.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, menyampaikan bahwa keberadaan bahasa ibu perlu terus mendapat perhatian, khususnya dalam lingkungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter SD, Ely Mulyaningsih, menerangkan bahwa peserta yang hadir tidak mewakili sekolah secara langsung, melainkan dikirim melalui sistem delegasi dari setiap kecamatan.

“Jadi karena ini merupakan kegiatan rutin, Festival Tunas Bahasa Ibu memang mengirimkan per sekolah, tetapi ini dari seluruh kecamatan. Dari 27 kecamatan semuanya mengikuti. Sistemnya delegasi, jadi bukan per sekolah. Bisa jadi satu kecamatan hanya satu sekolah atau lebih,” ujar Ely.

Sebagian besar peserta merupakan siswa kelas IV dan V. Namun, siswa kelas III juga dapat mengikuti kegiatan apabila mempunyai kemampuan dan kesiapan yang dinilai sesuai.

Setelah pelaksanaan di tingkat kabupaten, peserta terbaik akan dipersiapkan untuk mengikuti FTBI tingkat Jawa Barat yang diperkirakan berlangsung pada November 2026.

Ely menjelaskan, pelaksanaan tingkat provinsi biasanya digelar secara luring. Sementara kegiatan di tingkat nasional lebih banyak dikemas dalam bentuk ekshibisi dengan menampilkan keberagaman bahasa dan sastra.

Pada tingkat nasional, terdapat ruang pertunjukan yang dapat menampilkan berbagai karya bahasa dan sastra daerah. Sajak Sunda menjadi salah satu materi yang dapat ditampilkan dan dipadukan dengan bahasa daerah lainnya.

Bahasa Sunda Masih Memiliki Peran Penting

Ely menilai bahasa Sunda masih mempunyai posisi penting bagi masyarakat Kabupaten Ciamis karena menjadi salah satu bahasa ibu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaannya juga masih terlihat dalam kegiatan belajar mengajar di tingkat sekolah dasar, terutama sebagai bahasa pengantar yang digunakan guru ketika berinteraksi dengan siswa.

“Bahasa Sunda itu sangat penting karena merupakan bahasa ibu, bahasa pengantar di kelas juga. Kalau kita tidak melestarikannya, mau bagaimana lagi, mungkin nanti akan punah,” katanya.

Menurut Ely, FTBI tidak hanya memberikan pengalaman kepada siswa. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi guru dan orang tua untuk semakin memahami penggunaan bahasa Sunda.

Di Kabupaten Ciamis sendiri terdapat sebagian masyarakat yang menggunakan bahasa selain Sunda sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Kondisi itu menjadi perhatian dalam pengembangan FTBI agar pelaksanaannya dapat mengakomodasi keberagaman bahasa ibu.

“Di Kabupaten Ciamis ada sebagian kecil yang bahasa pengantarnya bukan bahasa Sunda. Tetapi tadi menurut Pak Kadis, kami diharapkan memberikan kesempatan untuk tampil ekshibisi walaupun menggunakan bahasa Jawa, karena sama-sama bahasa ibu yang digunakan di Kabupaten Ciamis. Jadi target kita ke depan lebih inklusif,” jelasnya.

Sajak Menjadi Salah Satu Cabang Favorit

Sajak termasuk materi yang banyak diminati dalam FTBI. Ely menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari keberadaan budayawan di Ciamis yang aktif menampilkan dan memperkenalkan karya sastra tersebut kepada masyarakat.

Kehadiran budayawan sekaligus memberikan contoh bagi peserta didik. Dengan melihat penampilan secara langsung, siswa dapat memperoleh gambaran mengenai cara membawakan sajak.

Dari sisi pembelajaran, materi sajak juga dinilai dapat dikembangkan secara bertahap. Siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan sajak, kemudian memahami dan menganalisis isi, hingga akhirnya berlatih melakukan deklamasi.

“Secara pedagogik, Bapak dan Ibu guru ketika mengajarkan sajak itu sudah sesuai SOP. Bagaimana mengenalkan sajak, menganalisis isinya, kemudian sampai mendeklamasikan. Itu sudah membudaya,” ujarnya.

Menurut Ely, budayawan dapat menjadi contoh bagi siswa dalam mempelajari sajak. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman melihat dan mempraktikkan secara langsung.

Pembelajaran Bahasa Sunda Mengikuti Kurikulum

Pembelajaran bahasa Sunda di tingkat SD mengacu pada ketentuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dituangkan melalui peraturan gubernur.

Sementara itu, pengembangan materi di daerah tetap memperhatikan capaian pembelajaran dan kompetensi yang telah ditetapkan.

“Masih Kurikulum Merdeka semuanya. Dari segi kebahasaan sudah cukup, masih mencakup di sana,” katanya.

Materi aksara Sunda juga tetap dikenalkan kepada siswa. Namun, pendalaman aksara Sunda untuk kepentingan perlombaan biasanya dilakukan melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Menurut Ely, waktu pembelajaran intrakurikuler yang terbatas membuat sekolah perlu menyediakan kegiatan tambahan apabila ingin mempersiapkan siswa mengikuti perlombaan.

“Kalau untuk ajang FTBI, kebanyakan aksara Sunda itu lebih ke kokurikuler. Kalau hanya beberapa jam pelajaran, tidak akan bisa maksimal untuk mengikuti ajang lomba. Biasanya yang ikut ke sini sudah ada kokurikulernya, pembiasaan, ekstrakurikuler, dan pembinaannya,” jelas Ely.

Kompetensi Guru Terus Dikembangkan

Pengajaran bahasa Sunda di SD pada umumnya menjadi bagian dari tugas guru kelas melalui muatan lokal. Untuk meningkatkan kemampuan pendidik, terdapat program guru utama yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG).

Saat ini terdapat 13 guru utama yang terlibat dalam program tersebut. Pelatihan dan pengembangan kompetensi dilakukan secara berkala.

Sistem pelatihan juga menerapkan prinsip pemerataan sehingga kesempatan mengikuti kegiatan pengembangan kompetensi dapat diberikan kepada guru yang berbeda.

“Kalau di KKG itu yang ikut lagi, itu lagi. Kalau kita sistemnya pemerataan. Misalnya ada kuota empat, yang lama dua, yang baru dua, sehingga terus bertambah,” ungkapnya.

Waktu Persiapan Menjadi Evaluasi

Ely menyebutkan bahwa persoalan waktu menjadi salah satu catatan dari pelaksanaan FTBI pada tahun-tahun sebelumnya.

Jadwal perlombaan yang berdekatan dengan masa pembinaan membuat guru dan peserta mempunyai waktu terbatas untuk melakukan persiapan.

Pelaksanaan FTBI tingkat kabupaten pada Agustus tahun ini memberikan jeda yang lebih panjang sebelum peserta menghadapi tingkat provinsi

“Kalau dibilang pembinaan, rasanya sudah totalitas. Lebih kepada manajemen waktu. Sekarang kita masih punya waktu karena ada jeda untuk dipersiapkan ke provinsi,” katanya.

Jeda waktu tersebut dapat dimanfaatkan peserta untuk memperdalam materi dan meningkatkan kemampuan. Guru pembimbing juga mempunyai kesempatan menyusun pembinaan dengan lebih terarah

Selain pembinaan teknis, Ely menekankan pentingnya coaching untuk mengetahui perkembangan peserta. Proses tersebut dilakukan dengan melihat kekurangan dan kelebihan setiap siswa.

“Ketika melakukan pembinaan, saya pun ikut turun, bukan untuk mengajar, tetapi lebih ke coaching. Ada murid yang dibina, ada guru pembimbing dari sekolah, dan ada guru pembina dari guru utama. Kita coaching, apa masalahnya, bagian mana yang perlu diperbaiki, juknisnya seperti apa, kemudian dianalisis sampai akhir,” jelasnya.

Peraih Juara Provinsi Tidak Bisa Mengikuti Cabang yang Sama

Terdapat ketentuan khusus bagi peserta yang sebelumnya meraih prestasi di tingkat provinsi. Siswa yang berhasil menjadi juara pertama, kedua, atau ketiga pada tahun sebelumnya tidak diperbolehkan mengikuti mata lomba yang sama pada tahun berikutnya.

Namun, siswa tersebut tetap dapat mengikuti cabang berbeda apabila memiliki potensi di bidang lainnya.

“Kalau anaknya punya potensi, misalnya dari sajak pindah ke biantara, boleh. Karena ada beberapa yang tidak bisa ikut lagi, yaitu yang sebelumnya juara satu, dua, atau tiga tidak bisa mengikuti mata lomba yang sama,” ujarnya.

Bahasa Sunda Masih Digunakan sebagai Pengantar

Penggunaan bahasa Sunda tidak hanya terlihat dalam pelaksanaan FTBI. Bahasa tersebut juga masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di sekolah.

Ely mengatakan, salah satu hal yang diperhatikan adalah sejauh mana guru menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar ketika menyampaikan materi kepada siswa.

Menurutnya, mayoritas guru di Kabupaten Ciamis masih menggunakan bahasa Sunda dalam proses pembelajaran. Penggunaannya tetap disesuaikan dengan ketentuan mengenai bahasa Indonesia maupun bahasa lainnya.

“Sebagian besar Bapak dan Ibu guru di Kabupaten Ciamis mengajarkan menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar. Apa pun materinya, sekalipun bahasa Inggris yang diajarkan, tetap ada pengantar bahasa Sundanya,” katanya.

Bahasa Indonesia tetap digunakan dalam situasi tertentu, termasuk pada pembukaan pembelajaran, sesuai ketentuan yang berlaku dalam dunia pendidikan.

Ely menambahkan, pihaknya juga tengah merancang mekanisme monitoring penggunaan bahasa di lingkungan pemerintah daerah. Pemantauan tersebut nantinya mencakup penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, serta bahasa asing.

“Proporsinya sekarang masih lebih tinggi bahasa Sunda dibanding bahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia,” pungkasnya. (Putri)