Darussalam Ciamis Gelar BRUN dan Luncurkan Logo Menuju 1 Abad Darussalam Ciamis

Pendidikan35 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Pondok Pesantren Darussalam Ciamis mulai mempersiapkan peringatan satu abad melalui peluncuran logo SABDA (Satu Abad Darussalam) yang dirangkaikan dengan program edukasi Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) serta pengumuman pemenang sayembara logo. Kegiatan tersebut berlangsung di MAN 1 Ciamis, Selasa (20/10/2026), dalam agenda Gerak Cipta Masyarakat Islam bertema Wujudkan Layanan Keagamaan Berdampak dan Berdaya.

Acara ini melibatkan para pelajar MAN 1 Ciamis serta santri dan santriwati Pondok Pesantren Darussalam. Selain menjadi bagian dari kegiatan menyambut Hari Santri, agenda tersebut juga menjadi langkah awal menuju peringatan 100 tahun Darussalam yang dijadwalkan berlangsung pada 2029.

Kegiatan ini menggabungkan edukasi mengenai kesiapan membangun keluarga dengan upaya memperkenalkan perjalanan panjang pesantren kepada masyarakat luas. Peluncuran logo SABDA sekaligus menjadi simbol dimulainya rangkaian program yang akan melibatkan berbagai unsur, termasuk alumni Darussalam.

Kemenag Tekankan Pentingnya Kesiapan Sebelum Menikah

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si., menyampaikan bahwa pendidikan pranikah perlu diberikan kepada generasi muda agar mereka memahami berbagai aspek yang harus dipersiapkan sebelum memasuki kehidupan perkawinan.

Menurut Dudu, membangun rumah tangga membutuhkan kesiapan yang lebih luas daripada sekadar keinginan untuk menikah. Calon pasangan perlu memiliki kematangan emosional, kesiapan mental, serta pemahaman mengenai hak dan tanggung jawab dalam keluarga.

Ia mengingatkan bahwa keputusan menikah sebaiknya diambil melalui pertimbangan yang matang, bukan hanya mengikuti keinginan sesaat.

Dudu juga menyoroti pentingnya pencegahan perkawinan usia anak melalui edukasi dan pemahaman terhadap peraturan yang berlaku. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia minimum untuk menikah bagi laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun.

Dalam hal ini, pesantren dinilai mempunyai potensi besar untuk membantu membangun pemahaman generasi muda mengenai kehidupan berkeluarga. Pendidikan agama yang diberikan di lingkungan pesantren dapat menjadi landasan untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kedewasaan, dan keharmonisan rumah tangga.

Dudu turut menekankan bahwa pembinaan keluarga idealnya tidak hanya dilakukan sebelum pernikahan. Pasangan yang telah menikah juga memerlukan pendampingan berkelanjutan melalui pengajian, kegiatan keagamaan, dan program pendidikan keluarga.

Ia memandang kedekatan pesantren dengan masyarakat sebagai modal penting untuk memperluas jangkauan pendidikan tersebut, terutama bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan agama.

Logo SABDA Tandai Awal Rangkaian Peringatan 100 Tahun Darussalam

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, M.Ag., atau yang akrab disapa Ang Icep, menjelaskan bahwa peluncuran logo SABDA merupakan bagian dari persiapan menyambut usia satu abad pesantren pada 2029.

Menurutnya, peringatan tersebut akan dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan selama tiga tahun, bukan sekadar seremoni pada tahun puncak perayaan.

Darussalam juga berencana memperluas kegiatan ke sejumlah daerah untuk menjangkau para alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa kota yang masuk dalam rencana kegiatan di antaranya Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Selain di dalam negeri, jaringan alumni yang berada di luar negeri juga diharapkan dapat mengambil bagian dalam rangkaian peringatan tersebut.

Ang Icep menjelaskan bahwa kegiatan akan diselenggarakan secara bertahap setiap tahun hingga mencapai puncaknya pada 2029. Pola ini diharapkan memberikan ruang bagi para alumni untuk terlibat sekaligus mempererat hubungan mereka dengan almamater.

Keterlibatan alumni menjadi salah satu perhatian dalam persiapan menuju satu abad Darussalam. Melalui berbagai kegiatan, pesantren ingin memperkuat jaringan persaudaraan sekaligus mengenalkan kontribusinya kepada masyarakat yang lebih luas.

Sayembara Logo Diikuti 66 Peserta

Peluncuran SABDA turut disertai pengumuman hasil sayembara desain logo yang menarik minat 66 peserta. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dengan partisipasi yang juga menjangkau luar negeri.

Ang Icep menerangkan bahwa penentuan pemenang dilakukan melalui tahapan seleksi hingga terpilih tiga karya terbaik. Karya yang menempati peringkat pertama selanjutnya ditetapkan sebagai logo yang akan digunakan untuk mendukung rangkaian kegiatan Satu Abad Darussalam.

Pemenang utama sayembara tersebut adalah Syarifuddin, mahasiswa sebuah perguruan tinggi Islam negeri di Makassar.

Penyelenggaraan sayembara ini menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang kepada generasi muda dalam menyumbangkan ide dan kreativitasnya bagi perkembangan lembaga pendidikan Islam.

Menurut Ang Icep, kemampuan memanfaatkan media digital kini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan pesantren kepada masyarakat. Teknologi dapat membantu memperluas penyebaran informasi dan memperkuat syiar Islam, selama penggunaannya tetap berpedoman pada nilai-nilai yang dijunjung lembaga pendidikan.

Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi di lingkungan pesantren perlu disertai pengawasan. Penggunaan perangkat dan media digital harus tetap mendukung kegiatan pendidikan, bukan justru mengurangi konsentrasi santri dalam menuntut ilmu.

BRUN Bekali Remaja dengan Pemahaman Kehidupan Berkeluarga

Program Bimbingan Remaja Usia Nikah menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui program ini, para pelajar dan santri diajak memahami bahwa kehidupan perkawinan membutuhkan persiapan yang mencakup berbagai aspek.

Ang Icep berpandangan bahwa keluarga merupakan fondasi penting bagi terbentuknya kehidupan sosial yang baik. Hubungan keluarga yang harmonis dapat mendukung terciptanya masyarakat yang lebih tenteram dan kehidupan bernegara yang kuat.

Karena itu, pembekalan kepada remaja perlu dilakukan sejak dini. Materi pendidikan keluarga tidak cukup hanya membahas perkawinan dari sudut pandang agama, tetapi juga perlu memperhatikan kesiapan psikologis, kesehatan, tanggung jawab, dan kemampuan menjalankan peran dalam rumah tangga.

Ia menilai persoalan perkawinan usia anak perlu dipahami secara menyeluruh. Selain berkaitan dengan batas usia yang diatur dalam hukum, persoalan tersebut juga menyangkut perkembangan fisik dan mental, keberlanjutan pendidikan, serta kesiapan seseorang dalam menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua.

Dengan pendidikan yang memadai, generasi muda diharapkan mampu memahami konsekuensi perkawinan dan membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.

Melalui pendekatan pendidikan keagamaan, pesantren diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya keluarga yang sehat, bertanggung jawab, dan harmonis.

Jaga Tradisi Pesantren, Manfaatkan Teknologi Secara Bijak

Menjelang usia satu abad, Pondok Pesantren Darussalam Ciamis berupaya menjaga kesinambungan tradisi pendidikan Islam sekaligus membuka ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ang Icep menyebutkan bahwa metode pembelajaran klasik, seperti pengajian, halaqah, dan bandongan, tetap menjadi bagian dari sistem pendidikan yang dipertahankan di lingkungan pesantren.

Tradisi tersebut dinilai memiliki nilai penting dalam proses pembelajaran dan pewarisan ilmu keislaman. Di saat yang sama, santri juga perlu dibekali kemampuan untuk memahami perkembangan teknologi agar mampu menghadapi tantangan zaman.

Pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat mendukung pencarian informasi dan memperluas wawasan. Namun, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti peran guru atau ustaz.

Menurut Ang Icep, pendampingan langsung dari pendidik tetap diperlukan agar santri dapat memahami materi secara tepat, memeriksa keabsahan informasi, dan menempatkan pengetahuan sesuai konteksnya.

Pendekatan ini mencerminkan upaya Darussalam untuk mengembangkan pendidikan yang tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam, tetapi tidak menutup diri terhadap inovasi.

Perkuat Kontribusi Pesantren bagi Masyarakat

Penyelenggaraan Gerak Cipta Masyarakat Islam, program Bimbingan Remaja Usia Nikah, serta peluncuran logo SABDA memperlihatkan upaya Pondok Pesantren Darussalam Ciamis dalam mengembangkan peran pendidikan dan pembinaan sosial.

Selain mempersiapkan peringatan satu abad pada 2029, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai kesiapan berkeluarga, memperluas keterlibatan alumni, dan mendorong penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan mempertahankan tradisi pendidikan Islam sekaligus menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman, Darussalam diharapkan terus memberikan kontribusi bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan keagamaan dan pembentukan generasi yang bertanggung jawab. (PUTRI)