Bukan Cuma Digoreng, Ikan Nila Ciamis Dikreasikan Jadi Sushi dan Sosol

Daerah25 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Ikan nila di Kabupaten Ciamis mulai dikembangkan menjadi beragam menu yang lebih modern. Salah satunya sushi dengan nori berbahan daun kelor serta sosol yang biasanya menggunakan ayam, tetapi kali ini diganti dengan ikan nila.

Kreasi tersebut dikenalkan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Diversifikasi Pengolahan Hasil Perikanan yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis melalui Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Kamis (24/9/2026).

Pengolahan dengan cara berbeda ini diharapkan membuat ikan lebih mudah diterima oleh keluarga, terutama anak-anak yang kurang menyukai ikan karena aroma atau rasa amis. Selain menjadi menu keluarga, hasil olahan tersebut juga dapat dikembangkan menjadi produk usaha skala kecil.

Kepala Bidang Kesmavet Disnakkan Ciamis, Asri Kurnia, mengatakan diversifikasi makanan menjadi bagian dari langkah meningkatkan konsumsi ikan masyarakat sekaligus mengenalkan manfaat protein hewani dalam pencegahan stunting.

“Tujuan kegiatan hari ini yang pertama upaya peningkatan konsumsi ikan masyarakat di Kabupaten Ciamis. Kemudian yang kedua mendukung pencegahan stunting melalui edukasi protein hewani, yaitu ikan,” ujar Asri.

Menurut Asri, masyarakat selama ini masih banyak mengolah ikan dengan cara yang sama. Ikan biasanya dimasak dengan cara digoreng, dibakar, atau dipepes.

Kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya mengenalkan variasi menu berbahan ikan. Dengan bentuk makanan yang berbeda, ikan diharapkan dapat lebih menarik bagi anggota keluarga yang selama ini kurang menyukainya.

“Banyak sekali menu yang bisa kita modifikasi. Tidak hanya berbahan dasar ayam ataupun ikan laut, tetapi ikan nila yang merupakan salah satu unggulan Ciamis bisa dijadikan bahan dasar,” katanya.

BACA JUGA:  Program ATENSI Sentuh Disabilitas Ciamis, Total Bantuan Capai Rp99 Juta

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan sekaligus praktik mengolah ikan nila menjadi beberapa jenis makanan. Sushi menjadi salah satu menu yang diperkenalkan.

Tidak hanya bahan utama yang dimodifikasi. Bahan pembungkus sushi atau nori juga dibuat menggunakan daun kelor yang tersedia di lingkungan masyarakat.

“Biasanya nori dari ikan laut yang tinggal ada, ini dari kelor. Dibuat sendiri dari awal dari daun kelor. Jadi untuk sushi ada lapisannya, itu dari daun kelor,” ujar Asri.

Selain sushi, peserta juga dikenalkan dengan sosol atau sosis solo. Makanan yang umumnya menggunakan ayam tersebut dibuat dengan ikan nila sebagai bahan isi.

Menurut Asri, pemanfaatan ikan nila sebagai bahan dasar berbagai makanan memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat. Di sisi lain, penggunaan bahan lokal seperti daun kelor juga dapat menjadi alternatif pangan yang memiliki nilai gizi.

Diversifikasi menu tersebut berkaitan dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat Ciamis yang terus mengalami peningkatan.

Asri menyebut konsumsi ikan di Kabupaten Ciamis pada 2025 mencapai 21,21 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut berada di atas tingkat konsumsi ikan masyarakat di Jawa Barat.

Ia mengatakan kenaikan konsumsi ikan terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan menjadi salah satu kegiatan yang terus dijalankan pemerintah daerah.

“Dari beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan karena upaya kami di dinas untuk Gemarikan dan beberapa kegiatan lainnya untuk mendorong konsumsi ikan di masyarakat. Menjadikan konsumsi ikan sebagai prioritas kegiatan di dinas kami,” katanya.

BACA JUGA:  Bapenda Ciamis Ganjar 50 Desa dan Kelurahan dengan Sepeda Motor atas Capaian PBB-P2

Meski angka konsumsi mengalami peningkatan, kebiasaan mengolah ikan dengan menu yang itu-itu saja masih menjadi persoalan di tingkat keluarga.

Menurut Asri, variasi makanan dapat membuat konsumsi ikan lebih menarik dan mendorong keluarga menjadikannya sebagai bagian dari menu rutin.

“Dengan menu yang variatif, mudah-mudahan bisa mengubah kebiasaan dan bisa dirutinkan, minimal seminggu sekali,” ujarnya.

Keterampilan mengolah ikan yang diberikan dalam pelatihan juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk merintis usaha.

Produk ikan nila yang dikemas menjadi makanan siap santap memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah dibandingkan jika hanya dijual sebagai ikan segar.

Asri berharap peserta, khususnya para ibu, dapat melihat peluang tersebut sebagai alternatif usaha rumahan yang bisa dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing.

“Bisa menjadi nilai tambah, membuat ibu-ibu terinspirasi untuk membuka usaha olahan skala kecil sehingga bisa menambah pendapatan keluarga,” katanya.

Pengembangan produk olahan juga berkaitan dengan keberadaan pembudidaya ikan nila di Kabupaten Ciamis. Pemanfaatan nila sebagai bahan baku berbagai makanan dapat memperluas penggunaan hasil produksi ikan lokal.

Bagi pelaku usaha yang nantinya berkembang, pendampingan mengenai perizinan dan sertifikasi produk dapat dilakukan melalui perangkat daerah yang memiliki kewenangan terkait.

Disnakkan juga membuka kolaborasi dengan instansi lain untuk mendukung masyarakat yang mulai mengembangkan usaha olahan ikan.

BACA JUGA:  Polres Ciamis Ungkap Kasus Pencurian di SDN 4 Cileungsir 

Sementara dalam pelaksanaan Gemarikan, produk yang digunakan berasal dari pelaku usaha lokal. Disnakkan melibatkan kelompok usaha dan UMKM skala kecil yang berada di Kabupaten Ciamis.

“Untuk Gemarikan, kita menyerap pelaku-pelaku usaha kecil. Paketnya dari kelompok atau pelaku usaha UMKM skala kecil Kabupaten Ciamis, bukan dari pabrikan atau dari luar kabupaten,” ujarnya.

Bimtek Diversifikasi Pengolahan Hasil Perikanan tersebut melibatkan Pokja III TP PKK Kabupaten Ciamis dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Peternakan dan Perikanan.

Peserta berasal dari unsur Pokja III TP PKK tingkat desa, kader Posyandu, serta pelaku usaha pemula. Mereka diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan ke lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Bagi keluarga, pengolahan ikan menjadi menu yang lebih beragam dapat menjadi pilihan untuk mengenalkan sumber protein hewani kepada anak-anak.

Sementara bagi pelaku usaha pemula, keterampilan tersebut bisa menjadi dasar untuk mengembangkan makanan olahan berbahan ikan nila dengan skala produksi yang lebih besar.

Asri berharap manfaat kegiatan tidak berhenti pada pengenalan resep baru. Ia ingin konsumsi ikan masyarakat meningkat, pengetahuan mengenai gizi semakin baik, serta muncul usaha-usaha kecil yang dapat membantu menambah pendapatan keluarga.

“Harapannya semua tujuan bisa tercapai. Yang pertama konsumsi ikan masyarakat Kabupaten Ciamis semakin meningkat. Kemudian mendukung pencegahan stunting, menjadi peluang usaha skala kecil di masyarakat untuk meningkatkan pendapatan keluarga, dan ujung akhirnya untuk kecerdasan anak,” pungkasnya. (putri)