Bangun Kota Inklusif dan Berkelanjutan, Wamen ATR/BPN Tekankan Pentingnya Kolaborasi

Nasional32 Dilihat

JAKARTA, ASAJABAR.COM – Pembangunan kota-kota besar di Indonesia membutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk menciptakan ruang perkotaan yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan Visi Kota 2045 yang menargetkan terwujudnya kota dengan sistem transportasi yang baik, lingkungan yang tangguh, serta tata ruang yang mampu memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dan berkolaborasi dalam mewujudkan visi tersebut. Ajakan itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Jakarta Architecture Festival 2026 di M Bloc Space, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

“Seperti Visi Kota 2045, berharap Jakarta dan kota-kota besar lainnya akan bisa menjadi compact and connected city dengan sistem transportasi yang baik, lalu juga inclusive city, serta resilient and sustainable city. Tentunya ini semua membutuhkan kolaborasi yang baik antara pemerintah, akademisi, termasuk para arsitek yang ada di sini,” ujar Ossy.

Menurut Ossy, kolaborasi antarpemangku kepentingan merupakan faktor penting dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkualitas. Pemerintah, kata dia, memiliki peran dalam menyiapkan kebijakan dan memberikan kepastian regulasi, termasuk terkait aspek pertanahan.

BACA JUGA:  Layanan Pengukuran Terjadwal Telah Diterapkan di 462 Kantor Pertanahan di Indonesia

“Kami pun di Kementerian ATR/BPN siap berkolaborasi dari sisi legalitas tanahnya. Ruang terbuka hijau juga sangat penting, mungkin kita bisa melakukan kolaborasi di area tersebut,” tuturnya.

Ia menambahkan, setiap pemangku kepentingan memiliki kontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing. Akademisi dapat memberikan masukan berdasarkan kajian keilmuan, sementara arsitek dan pelaku usaha berperan mendorong inovasi dalam pembangunan kota. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga serta memanfaatkan ruang sesuai dengan peruntukannya.

Ossy turut mengapresiasi kontribusi para arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam mendukung program pemerintah, khususnya Program 3 Juta Rumah. Melalui keterlibatan dalam kegiatan bedah rumah di berbagai daerah, para arsitek dinilai telah memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hunian masyarakat.

Dalam Jakarta Architecture Festival 2026, Ossy hadir bersama sejumlah narasumber lainnya, yakni Ketua Sub-Kelompok Perencanaan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, Sapta Satria Putra; praktisi perencana dan perancang kota, Yu Sing; serta Ketua Research Course on Housing and Policy (RECEHPOL) Universitas Indonesia, Joko Adianto.

BACA JUGA:  Banjir 5 Meter Rendam Kantah Aceh Tamiang, 75 Ribu Buku Tanah Terdampak

Mengusung tema “Ambang Naung”, Jakarta Architecture Festival 2026 menjadi wadah diskusi untuk merespons berbagai tantangan pembangunan perkotaan. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, arsitek, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mewujudkan tata ruang yang tertib, pembangunan berkelanjutan, serta pemanfaatan tanah yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.