Anak-Anak RA di Ciamis Praktik Tawaf, Sai dan Lempar Jumrah

Pendidikan42 Dilihat

CIAMIS, AMNN.CO.ID – Suasana halaman Islamic Center Kabupaten Ciamis dipenuhi ribuan anak dari Raudhatul Athfal (RA) pada Sabtu (26/9/2026). Sekitar 10.000 peserta mengikuti kegiatan peragaan manasik haji yang digelar secara bersama-sama di tingkat Kabupaten Ciamis.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Forum Pencinta Anak Sholeh Sholehah Kabupaten Ciamis dengan melibatkan KKRA, KKGRA, IGRA, serta Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis.

Ketua Forum Pencinta Anak Sholeh Sholehah Kabupaten Ciamis, Hj. Lalis Lismaidah, mengatakan kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran agama yang diberikan kepada anak sejak usia dini.

Menurut Lalis, anak-anak tidak hanya diajak mengenal haji secara teori, tetapi juga diperkenalkan melalui praktik sederhana mengenai tahapan pelaksanaan ibadah tersebut.

“Ya, salah satunya untuk mengenalkan rukun Islam yang kelima kepada anak-anak. Selain itu juga menanamkan akidah anak-anak dari kecil dan mengenalkan bagaimana ibadah haji dilaksanakan,” kata Lalis.

Ia menjelaskan, meski seluruh rangkaian yang dilakukan merupakan simulasi, konsep kegiatan dibuat menyerupai kondisi pelaksanaan ibadah haji. Sejumlah miniatur lokasi penting dalam rangkaian haji disiapkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga melatih karakter anak. Mereka dibiasakan untuk bersabar, mandiri, ikhlas, serta mampu mengikuti kegiatan bersama peserta lainnya.

“Anak-anak diharapkan bisa mandiri, kemudian juga bersabar ketika berdesakan dengan orang lain, penuh dengan rasa sabar, rasa ikhlas dan berserah diri kepada Allah,” ujarnya.

Materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut mencakup pengenalan rukun, wajib, dan sunah haji. Penyampaiannya disesuaikan dengan usia peserta sehingga dikemas melalui berbagai aktivitas yang lebih mudah dipahami anak.

“Jadi kita mengenalkan kepada anak-anak bagaimana ibadah haji itu dilaksanakan dan tata cara tentang rukun haji, wajib haji, juga sunah-sunah yang harus dilaksanakan ketika ibadah haji,” tutur Lalis.

Agar anak-anak tetap bersemangat selama mengikuti kegiatan, panitia memadukan pembelajaran dengan aktivitas fisik, video, lagu, serta berbagai permainan edukatif berupa tepuk-tepuk.

Peserta juga mempraktikkan beberapa tahapan manasik, seperti tawaf, sai, dan lempar jumrah. Aktivitas tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana melatih kemampuan gerak dan motorik anak.

“Setiap pagi itu seperti olahraga. Kita melakukan tawaf, melakukan sai, juga melempar jumrah. Itu sudah termasuk pengembangan potensi kinestetik anak,” katanya.

Besarnya jumlah peserta membuat pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi tiga kloter. Kloter pertama berlangsung pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, kemudian kloter kedua pada pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Sementara kloter terakhir dijadwalkan mulai pukul 13.00 sampai 15.00 WIB.

Untuk menunjang simulasi, panitia menghadirkan sejumlah miniatur lokasi yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji.

Area tersebut antara lain menggambarkan Arafah, Muzdalifah, Mina, Terowongan Mina, serta tiga lokasi lempar jumrah, yakni Ula, Wusta, dan Aqabah.

Peserta kemudian diarahkan menuju area Babussalam dan Masjidil Haram yang dilengkapi miniatur Ka’bah, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, lokasi sai, hingga area tahallul.

“Miniatur Mekkah ini sudah komplet. Ada Arafah, Muzdalifah, Mina, Terowongan Mina, kemudian Jumrah Ula, Wusta, Aqabah. Kita masuk ke Babussalam dan Masjidil Haram, ada Ka’bah, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, sai dan tahallul,” jelas Lalis.

Sebagai bagian dari kegiatan, peserta juga memperoleh sejumlah perlengkapan dan bingkisan, di antaranya tas manasik, kurma, air minum, serta trofi.

Antusiasme tidak hanya terlihat dari para peserta. Dukungan juga datang dari orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka dari berbagai wilayah Kabupaten Ciamis.

Lalis menyebutkan, peserta datang dari seluruh kecamatan. Bahkan, sejumlah rombongan harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengikuti kegiatan yang dipusatkan di Islamic Center Ciamis.

“Dari Panumbangan, Panjalu, jauh-jauh itu menggunakan bus. Seluruh kecamatan ikut,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak diarahkan untuk mengikuti kegiatan secara mandiri. Orang tua tetap diperbolehkan berada di lokasi, tetapi tidak mendampingi anak selama mengikuti rangkaian manasik.

Konsep tersebut diterapkan untuk membiasakan peserta beraktivitas tanpa selalu bergantung kepada orang tua.

“Anak-anak diharapkan mandiri. Jadi drop off di situ tanpa orang tua. Orang tua boleh hadir, tetapi menunggu di pintu penjemputan,” ujar Lalis.

Peragaan manasik haji tahun 2026 ini menjadi kegiatan kolaboratif yang melibatkan sejumlah organisasi dan lembaga di lingkungan pendidikan RA.

Lalis mengatakan kegiatan serupa sebelumnya pernah dilaksanakan pada 2024. Kala itu, penyelenggaraannya masih berada di bawah KKRA dan Kemenag.

Setelah Forum Pencinta Anak Sholeh Sholehah Kabupaten Ciamis terbentuk, cakupan kerja sama diperluas dengan melibatkan KKRA, KKGRA, IGRA, dan Kemenag.

“Sekarang kepanitiaannya juga kolaborasi atau bergabung antara Kemenag, KKRA, KKGRA, dan IGRA,” katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut turut memperkenalkan RA kepada masyarakat sebagai lembaga pendidikan anak usia dini yang tidak hanya memberikan pembelajaran umum, tetapi juga mengenalkan nilai-nilai keislaman.

Menurut Lalis, pengenalan rukun Islam melalui kegiatan seperti manasik haji juga berkaitan dengan proses pembelajaran di RA dan menjadi bagian dari perkembangan peserta didik.

“Ini bukan sekadar kegiatan. Ini juga melaksanakan program yang ada dalam kurikulum dan tercantum dalam laporan kepada orang tua,” ujarnya.

Melalui pengalaman tersebut, anak-anak diharapkan memiliki pemahaman dasar mengenai ibadah haji sekaligus tumbuh motivasi untuk mengenal dan menjalankan ajaran agama.

“Harapannya untuk anak-anak, mudah-mudahan ini menjadi tempat untuk menanamkan dan menerapkan nilai-nilai ajaran agama Islam serta karakter,” pungkasnya.

Salah seorang orang tua peserta dari RA di Kecamatan Lakbok, Neni, menyambut positif pelaksanaan peragaan manasik haji tersebut.

Menurutnya, kegiatan praktik seperti ini membuat anak lebih mudah mengenal proses ibadah haji dibandingkan hanya mendapatkan penjelasan secara teori.

“Saya sangat setuju dengan adanya peragaan manasik haji ini. Anak-anak bisa belajar secara langsung dan mengenal tata cara ibadah haji sejak dini. Selain menambah pengetahuan agama, kegiatan seperti ini juga memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Neni. (Putri)